Langkah yang akan diambil pemerintah lewat Kemenkominfo untuk mengubah skema interkoneksi Sender Keep All (SKA) dalam layanan SMS operator menjadi berbasis biaya (costbased) bisa dibilang sangat tepat.
Hal tersebut berawal dari kenyataan bahwa sejatinya skema tersebut sangat tidak adil, dimana hanya menguntungkan salah satu pihak operator. Pemikiran awal, skema SKA yang diterapkan akan mengundang kedua belah pihak (kedua pelanggan operator) untuk lebih intens berkomunikasi lewat layanan SMS tersebut (saling balas/reply). Namun, kenyataannya disalahgunakan oleh operator tertentu dalam usaha promosi memikat pelanggan.
Seperti diketahui, skema SKA yang selama ini berjalan tidak memberikan share keuntungan bagi operator penerima SMS, dimana pihak pengirimlah yang memiliki semuanya. Operator penerima malah kebagian load trafik yang tinggi di server mereka, yang terbukti pula membuat jalur koneksi internal operator penerima 'serangan SMS' menjadi terganggu.
Bahkan, skema SKA ini secara tak langsung ikut memberikan kontribusi akan maraknya SMS Spam yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Bahkan banyak pula berubah menjadi serbuan SMS penipuan yang berujung pada masalah kriminal. Seperti kita tahu beberapa operator banyak menghadiahi pelanggannya ribuan SMS gratis lintas operator, yang banyak dipergunakan pihak yang tak bertanggung jawab untuk menebar spam.
Maka, dengan rencana perubahaan skema interkoneksi SMS Sender Keep All (SKA) menjadi berbasis biaya maka pihak operator tak akan sembarangan memberikan bonus gratisan SMS lintas operator, karena mereka pun bakal dikenai biaya besar untuk itu. Biaya yang harus mereka tanggung yakni maksimal Rp 23,-/SMS.
Melihat konsekuensi tersebut, maka pihak penyelenggara (operator) palingan kedepannya hanya bisa memberikan bonus SMS gratisan sesama operator saja. Dan, ini tentu saja bisa mengurangi peredaran SMS spam yang mengganggu kenyamanan pelanggan operator lain.
So, bisa kita bilang 'Selamat Tinggal SMS Gratisan Lintas Operator'??
Hal tersebut berawal dari kenyataan bahwa sejatinya skema tersebut sangat tidak adil, dimana hanya menguntungkan salah satu pihak operator. Pemikiran awal, skema SKA yang diterapkan akan mengundang kedua belah pihak (kedua pelanggan operator) untuk lebih intens berkomunikasi lewat layanan SMS tersebut (saling balas/reply). Namun, kenyataannya disalahgunakan oleh operator tertentu dalam usaha promosi memikat pelanggan.
Seperti diketahui, skema SKA yang selama ini berjalan tidak memberikan share keuntungan bagi operator penerima SMS, dimana pihak pengirimlah yang memiliki semuanya. Operator penerima malah kebagian load trafik yang tinggi di server mereka, yang terbukti pula membuat jalur koneksi internal operator penerima 'serangan SMS' menjadi terganggu.
Bahkan, skema SKA ini secara tak langsung ikut memberikan kontribusi akan maraknya SMS Spam yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Bahkan banyak pula berubah menjadi serbuan SMS penipuan yang berujung pada masalah kriminal. Seperti kita tahu beberapa operator banyak menghadiahi pelanggannya ribuan SMS gratis lintas operator, yang banyak dipergunakan pihak yang tak bertanggung jawab untuk menebar spam.
Maka, dengan rencana perubahaan skema interkoneksi SMS Sender Keep All (SKA) menjadi berbasis biaya maka pihak operator tak akan sembarangan memberikan bonus gratisan SMS lintas operator, karena mereka pun bakal dikenai biaya besar untuk itu. Biaya yang harus mereka tanggung yakni maksimal Rp 23,-/SMS.
Melihat konsekuensi tersebut, maka pihak penyelenggara (operator) palingan kedepannya hanya bisa memberikan bonus SMS gratisan sesama operator saja. Dan, ini tentu saja bisa mengurangi peredaran SMS spam yang mengganggu kenyamanan pelanggan operator lain.
So, bisa kita bilang 'Selamat Tinggal SMS Gratisan Lintas Operator'??

No comments:
Post a Comment